
Penangkapan Nicolas Maduro dan Kekacauan di Venezuela
Warga Venezuela yang tinggal di Florida Selatan merayakan penangkapan Nicolas Maduro, presiden negara mereka, dan istrinya, Cilia Flores, pada hari Sabtu. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah politik Venezuela, yang telah terpuruk selama bertahun-tahun akibat krisis ekonomi, politik, dan sosial.
Maduro, yang pernah menjadi sopir bus dan kemudian menjadi anggota serikat pekerja, naik ke puncak kekuasaan dengan dukungan kuat dari tokoh revolusioner Hugo Chávez. Namun, kepemimpinannya dikenal sebagai masa yang penuh ketegangan, dengan berbagai tuduhan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, serta penganiayaan terhadap oposisi.
Penangkapan tersebut dilakukan oleh pasukan AS di ibu kota negara, Caracas. Presiden AS Donald Trump mengumumkan keberhasilan operasi tersebut melalui media sosial. Wakil presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, kemudian menyatakan bahwa lokasi Maduro dan istrinya masih belum diketahui. Jaksa Agung AS, Pam Bondi, menyatakan bahwa kedua orang tersebut akan menghadapi tuntutan hukum setelah didakwa di New York.
Kejatuhan Maduro merupakan hasil dari tekanan AS yang meningkat selama beberapa bulan. Pemerintahan AS telah lama mengecam kebijakan Maduro, yang dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas regional. Dalam pidato terakhirnya sebelum meninggal pada tahun 2013, Chávez menunjuk Maduro sebagai penggantinya, meminta pendukungnya untuk memilih menteri luar negeri saat itu jika ia tidak lagi hidup. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, tetapi dukungan besar Chávez memberikan kemenangan tipis kepada Maduro.
Karier politik Maduro dimulai 40 tahun yang lalu. Ia pernah belajar ideologi di Kuba selama setahun, satu-satunya pendidikan formalnya setelah sekolah menengah. Setelah kembali, ia bekerja sebagai sopir bus di Caracas, di mana ia cepat menjadi pemimpin serikat pekerja. Badan intelijen Venezuela mengidentifikasinya sebagai seorang radikal sayap kiri dengan hubungan dekat dengan pemerintah Kuba.
Maduro akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai sopir dan bergabung dengan gerakan politik yang diorganisir oleh Chávez setelah menerima pengampunan presiden pada tahun 1994 karena memimpin kudeta militer yang gagal dan berdarah beberapa tahun sebelumnya.
Pada masa pemerintahannya, Venezuela mengalami krisis ekonomi yang parah, termasuk hiperinflasi, kelangkaan pangan dan obat-obatan, serta layanan publik yang rusak. Kondisi ini memicu migrasi jutaan warga Venezuela ke berbagai negara. Pemerintahannya juga kerap dituduh melakukan kecurangan pemilu dan pelanggaran hak asasi manusia, terutama terkait penindakan keras terhadap aksi protes besar pada 2014 dan 2017.
Kepemimpinan Maduro ditandai oleh krisis sosial, politik, dan ekonomi yang kompleks. Situasi ini mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan, menyebabkan lebih dari 7,7 juta warga Venezuela bermigrasi. Ribuan lawan pemerintah, baik nyata maupun yang dianggap sebagai lawan, dipenjara, dengan banyak yang disiksa, beberapa di antaranya atas perintahnya.
Maduro juga melengkapi aparat represif dengan membersihkan lembaga-lembaga dari siapa pun yang berani menentang. Krisis Venezuela terjadi selama tahun pertama Maduro menjabat. Oposisi politik, termasuk María Corina Machado yang kini memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, menyerukan protes jalanan di Caracas dan kota-kota lain. Demonstrasi tersebut menunjukkan tangan besi Maduro ketika pasukan keamanan menekan protes, yang berakhir dengan 43 kematian dan puluhan penangkapan.
Partai Sosialis Bersatu Venezuela pimpinan Maduro kemudian kehilangan kendali atas Majelis Nasional untuk pertama kalinya dalam 16 tahun pada pemilihan umum 2015. Maduro berupaya menetralisir legislatif yang dikendalikan oposisi dengan membentuk Majelis Konstituen pro-pemerintah pada tahun 2017, yang menyebabkan protes selama berbulan-bulan yang ditindas secara brutal oleh pasukan keamanan dan militer.
Lebih dari 100 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam demonstrasi tersebut. Ratusan orang ditangkap, menyebabkan Mahkamah Pidana Internasional membuka penyelidikan terhadap Maduro dan anggota pemerintahannya atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Penyelidikan tersebut masih berlangsung pada tahun 2025.
Pada tahun 2018, Maduro selamat dari upaya pembunuhan ketika drone yang dipasangi bahan peledak meledak di dekatnya saat ia menyampaikan pidato selama parade militer yang disiarkan secara nasional.
Di bawah kepemimpinan Maduro, Venezuela mengalami krisis ekonomi berat yang ditandai hiperinflasi, kelangkaan pangan, serta menurunnya layanan publik. Pemerintahannya juga kerap disorot karena dugaan kecurangan pemilu, krisis kemanusian, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Penindakan keras terhadap demonstrasi pada 2014 dan 2017 menjadi salah satu titik paling kontroversial. Situasi tersebut mendorong jutaan warga Venezuela bermigrasi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih layak.
Sanksi AS dan Tuduhan Kartel Narkoba
Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat menjatuhkan sanksi agresif terhadap Maduro dan lingkaran dekatnya. Pada 2020, Washington secara resmi mendakwanya atas tuduhan korupsi dan kejahatan lainnya, termasuk dugaan menjalankan atau melindungi jaringan narkotika internasional. Maduro menolak seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya kriminalisasi politik.
Ketegangan memuncak ketika Donald Trump mengklaim bahwa AS melancarkan operasi besar di Venezuela dan berhasil menangkap Maduro. Pernyataan amun langsung memicu reaksi global dan kekhawatiran akan eskalasi konflik di Amerika Latin.
Pemerintahan Maduro dikenai sanksi ketat dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Pada 2020, Washington secara resmi mendakwanya atas tuduhan korupsi dan kejahatan lainnya, termasuk dugaan keterlibatan dalam jaringan narkotika internasional.
0 Response to "Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela Ditangkap AS di Bawah Pemerintahan Trump"
Post a Comment