
Masalah Lingkungan dari Popok Sekali Pakai
Popok sekali pakai telah menjadi bagian penting dalam pengasuhan bayi, memberikan kenyamanan dan kebersihan. Namun, di balik manfaatnya, terdapat masalah lingkungan yang serius. Setiap tahun, miliaran popok bekas dibuang ke tempat pembuangan sampah, menciptakan "gunung sampah" yang merusak lingkungan.
Rata-rata bayi menggunakan sekitar 5.000 hingga 6.000 popok sebelum mereka benar-benar bebas popok. Dengan populasi bayi global yang besar, angka ini menghasilkan miliaran unit sampah yang harus dikelola. Oleh karena itu, diperlukan solusi praktis untuk mengurangi dampak negatif ini.
Solusi Berkelanjutan dari Merries
MERRIES, sebagai merek popok bayi unggulan di Indonesia, sadar akan masalah ini dan melakukan upaya konkrit untuk mengatasi masalah lingkungan. Selain memperhatikan kualitas dan kenyamanan, MERRIES juga berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan.
Sejak tahun 2019, MERRIES menjalankan program Merries Senyumkan Lingkungan (MSL) yang fokus pada daur ulang popok bekas. Program ini mengubah popok bekas menjadi produk bermanfaat seperti pot tanaman, tas jinjing, pouch, dan meja lipat. Tahun ini, program ini melangkah lebih jauh dengan inovasi teknologi pirolisis.
Teknologi Pirolisis untuk Daur Ulang Popok
Dalam kerja sama dengan Kertabumi Recycling Center, MERRIES memperkenalkan proses pirolisis yang mengubah popok bekas menjadi Bahan Bakar Merries (BBM). Proses ini bekerja dengan memecah material popok pada suhu tinggi tanpa oksigen, menghasilkan bahan bakar cair yang berguna.
Pada 2 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Pencegahan Polusi Sedunia, MERRIES meresmikan pilot project pengolahan popok bekas berbasis teknologi pirolisis. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Kertabumi Recycling Center serta pejabat setempat.
Partisipasi Masyarakat dalam Program
Program ini sangat mengandalkan partisipasi aktif masyarakat. Mulai dari pembersihan dan pengeringan popok bekas hingga membawanya ke MERRIES Drop Point yang tersedia di Kertabumi Recycling Center dan Posyandu mitra. Hasil olahan dari popok bekas memiliki manfaat ganda: bahan bakar untuk masyarakat, gas untuk operasional mesin daur ulang, serta residu yang diolah menjadi media tanam dan urban farming.
Dukungan dari Komunitas dan Pemerintah
Sri Kusmiati, Ketua Bidang 4 Perkumpulan Bank Sampah (PERBAS) Tangerang Selatan, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif MERRIES. Ia menilai informasi yang diberikan sangat bermanfaat dan mudah dilakukan mulai dari rumah.
Yunita, Lurah Pondok Kacang Barat, juga menyampaikan apresiasi terhadap program ini yang membantu mengurangi permasalahan popok bekas dan memberikan edukasi penting tentang pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Keberhasilan dan kesinambungan program ini sangat bergantung pada kolaborasi antara seluruh pihak. Efektivitas dan keberlanjutan proses pengolahan popok bekas menjadi BBM membutuhkan peran penting dari semua pihak, termasuk Merries selaku produsen, Kertabumi sebagai pengolah, serta konsumen dan komunitas di lapangan.
Santi Novianti, Co-founder Kertabumi Recycling Center, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif MERRIES yang selaras dengan visi keberlanjutan Kao Indonesia. Dengan adanya mesin pirolisis, Kertabumi dapat lebih efektif dalam menjalankan misi mereka.
Visi Keberlanjutan MERRIES
Program Merries Senyumkan Lingkungan sepenuhnya selaras dengan visi keberlanjutan Kao Indonesia, Kirei Lifestyle Innovation. Inisiatif ini menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi konkret yang tidak hanya berkelanjutan secara ekologis tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
0 Response to "Mengubah Sampah Popok Jadi Energi dengan Solusi Daur Ulang Inovatif"
Post a Comment