
Perjanjian gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja telah menciptakan harapan baru bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara. Kesepakatan ini diambil setelah konflik bersenjata yang berlangsung selama berminggu-minggu, yang menimbulkan kekhawatiran akan ketidakstabilan wilayah perbatasan kedua negara. Penandatanganan perjanjian terjadi pada hari Sabtu (27/12/2025), dengan partisipasi menteri pertahanan dari masing-masing negara.
Poin-Poin Utama Gencatan Senjata
Perjanjian gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja memiliki beberapa poin penting yang bertujuan untuk menghentikan konflik dan membangun kembali hubungan antar negara. Berikut adalah poin-poin utamanya:
-
Penghentian Total Aktivitas Serangan
Kedua negara sepakat untuk menghentikan seluruh aksi tempur di wilayah perbatasan. Selain itu, mereka juga sepakat untuk membekukan pergerakan pasukan tambahan serta melarang pelanggaran wilayah udara masing-masing untuk kepentingan militer. -
Pembebasan Tawanan Militer
Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah kewajiban Thailand untuk memulangkan 18 prajurit Kamboja yang ditangkap dalam bentrokan awal tahun ini. Proses pembebasan akan dilakukan setelah gencatan senjata berjalan selama 72 jam. -
Penegasan Komitmen Gencatan Senjata Sebelumnya
Perjanjian terbaru ini juga merevisi komitmen gencatan senjata yang dicapai pada Juli lalu. Di samping itu, kesepakatan ini juga mencakup 16 langkah de-eskalasi yang sebelumnya disepakati. -
Kepatuhan terhadap Konvensi Internasional
Selain menghentikan tembak-menembak, perjanjian ini juga mewajibkan Thailand dan Kamboja mematuhi konvensi internasional terkait larangan penggunaan ranjau darat. Isu ranjau darat menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara kedua negara. -
Komitmen Pemberantasan Kejahatan Lintas Negara
Kesepakatan ini juga menegaskan komitmen kedua negara untuk menahan diri dari penyebaran informasi palsu. Selain itu, Thailand dan Kamboja sepakat melanjutkan perundingan penetapan batas wilayah serta memperkuat kerja sama dalam pemberantasan kejahatan lintas negara.
Ketegangan Masih Menghiasi Hubungan
Meski ada harapan positif, hubungan antara Thailand dan Kamboja masih diwarnai ketegangan. Beberapa jam setelah penandatanganan gencatan senjata, Kementerian Luar Negeri Thailand menyampaikan protes kepada Kamboja terkait seorang prajurit Thailand yang mengalami cacat permanen akibat ledakan ranjau darat. Bangkok menuding ranjau tersebut baru dipasang oleh pasukan Kamboja, sementara Phnom Penh menyangkal dan menyebut ranjau itu sebagai sisa konflik perang saudara puluhan tahun lalu.
Gencatan senjata ini mendapat sambutan positif dari komunitas internasional. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyambut baik kesepakatan tersebut dan mendesak kedua negara untuk sepenuhnya mematuhi isi perjanjian. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut gencatan senjata itu sebagai langkah positif untuk mengurangi penderitaan warga sipil dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian jangka panjang.
PBB juga mengapresiasi peran Malaysia, China, dan Amerika Serikat dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai. Meskipun demikian, situasi tetap dinamis, dan diperlukan komitmen kuat dari kedua belah pihak untuk menjaga stabilitas di kawasan Asia Tenggara.
0 Response to "Thailand dan Kamboja Sepakati Gencatan Senjata, Apa Isinya?"
Post a Comment