
Ringkasan Berita:
- Injil Katolik untuk Misa Hari Rabu lengkap dengan Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik.
- Renungan harian Katolik tersedia di bagian akhir artikel ini.
- Rabu, 21 Januari 2026 adalah hari Rabu, minggu keempat dalam Perayaan Doa Sedunia, perayaan wajib untuk Santa Agnes, Perawan dan Martir, serta Santo Fruktuosus, bersama Augurius dan Eulogius, para martir, dengan warna liturgi merah.
Erfa News, MAUMERE -Mari kita perhatikan injil Katolik untuk Misa Hari Rabu, 21 Januari 2026.
Injil Katolik untuk misa hari Rabu lengkap dengan mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.
Renungan harian Katolik tersedia di bagian akhir artikel ini.
Rabu, 21 Januari 2026 adalah hari Rabu, minggu keempat dalam Perayaan Doa Sedunia, perayaan wajib untuk Santa Agnes, Perawan dan Martir, serta Santo Fruktuosus beserta teman-temannya: Augurius dan Eulogius, martir, dengan warna liturgi merah.
Berikut adalah bacaan liturgi Katolik untuk hari Rabu, 21 Januari 2026:
Bacaan Pertama 1 Samuel 17:32-33.37.40-51
Daud mengalahkan Goliath menggunakan batu dan ketapel.
Pada suatu hari Daud menghadap Saul dan berkata, "Janganlah seseorang merasa putus asa karena Goliat! Hambamu ini akan pergi berperang melawan orang Filistin itu."
Namun Saul berkata kepada Daud, "Tidak mungkin kamu bisa menghadapi orang Filistin itu! Mustahil kamu bisa melawan Goliat!"
Karena engkau masih muda, sedangkan Goliat sejak masa mudanya sudah menjadi prajurit." Namun Daud berkata kepada Saul,
Tuhan telah membebaskanku dari cakar singa dan dari cakar beruang. Ia juga akan membebaskanku dari tangan orang Filistin!" Kata Saul kepada Daud, "Pergilah! Tuhan menyertaimu.
Maka Daud mengambil tongkatnya dan berangkat. Ia memilih lima batu yang licin dari dasar sungai, lalu meletakkannya dalam kantung gembala yang ia bawa, yaitu wadah batu, sementara tali pengikatnya dipegangnya.
Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari teks tersebut: 1. Daud kemudian mendekati Goliat, seorang tentara Filistin. Goliat sendiri semakin mendekat menghadapi Daud, sementara di depannya ada seseorang yang membawa perisainya. 2. Daud berjalan mendekati Goliat, yaitu prajurit dari bangsa Filistin. Goliat juga semakin mendekat menghadap Daud, dengan seseorang di depannya yang memegang perisai. 3. Daud melangkah mendekati Goliat, seorang pria dari Filistin. Goliat pun semakin dekat menghadapi Daud, sementara di depannya terdapat orang yang membawa perisainya. 4. Daud mendekati Goliat, seorang prajurit Filistin. Goliat juga semakin mendekat menghadapi Daud, sementara ada seseorang yang membawa perisainya di depannya. 5. Daud bergerak mendekati Goliat, yang merupakan tentara dari bangsa Filistin. Goliat pun makin dekat menghadapi Daud, dengan seseorang yang membawa perisainya di depannya.
Saat Goliat memandang Daud, ia meremehkan Daud karena masih muda, wajahnya merah dan tampak menarik. Goliat, orang Filistin itu, berkata kepada Daud, “Apakah aku anjing, sehingga kau datang kepadaku dengan tongkat?”
Kemudian, demi para dewa, orang Filistin itu mengutuk Daud. Lalu ia menantang Daud, "Hadapilah aku, maka aku akan memberimu dagingmu kepada burung-burung di langit dan kepada hewan-hewan di padang."
Namun Daud berkata kepada Goliat, orang Filistin itu, "Engkau datang kepadaku dengan pedang, tombak, dan panah, tetapi aku datang kepadamu dengan nama Tuhan semesta alam, Allah tentara Israel yang kauhadapi itu."
Hari ini juga Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam genggamanku! Aku akan mengalahkan engkau dan memotong kepalamu! Hari ini juga aku akan menyerahkan mayatmu serta mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di langit dan hewan-hewan liar, agar seluruh bumi mengetahui bahwa Israel memiliki Allah, dan agar seluruh jemaah ini menyadari bahwa Tuhan menyelamatkan bukan melalui pedang atau tombak.
Karena perang ada di tangan Tuhan, dan Ia akan menyerahkan kalian kepada kami." Ketika orang Filistin itu maju menghadapi Daud, Daud segera berlari menuju barisan musuh untuk menghadapi Goliat.
Kemudian Daud memasukkan tangannya ke dalam kantung batu, mengambil satu buah batu, lalu melemparkannya.
Maka terbentur dahi Goliat, dan ia jatuh dengan wajah menghadap tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan tali panah dan batu; ia mengalahkan Goliat dan membunuhnya, tanpa senjata di tangannya.
Daud berlari menghampiri orang Filistin itu, lalu berdiri di sampingnya; ia mengambil pedang Goliat, menariknya dari sarungnya, dan membunuh Goliat. Ia memotong kepala Goliat menggunakan pedangnya sendiri.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 144:1b.2.9-10
Acungan puji kepada Tuhan, gunung batuku.
Berbahagialah Tuhan, Gunung Batuku! Ia mengajarkan tanganku untuk berperang, Ia melatih jari-jariku dalam pertempuran!
Ia adalah tempat perlindungan dan bentengku, kota keamananku serta penebusku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung; Dialah yang mengalahkan bangsa-bangsa di bawah kekuasaanku!
Ya Tuhan, aku ingin menyanyikan lagu yang baru untuk-Mu; dengan alat musik gambus bersepuluh senar aku akan menyanyikan puji-pujian. Karena Engkaulah yang memberi kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!
Bait Pengantar Injil Alleluya
Ref. Alleluya
Yesus menyampaikan Injil Kerajaan Allah, serta meringankan penderitaan semua orang yang sakit. Alleluya.
Bacaan Injil Markus 3:1-6
Yang manakah diizinkan pada hari Sabtu untuk menyelamatkan nyawa seseorang atau membunuhnya?
Pada suatu hari Sabat, Yesus pergi ke rumah ibadat. Di tempat itu terdapat seorang yang tangannya mengalami kelumpuhan. Orang-orang Farisi mengawasi Yesus dengan hati-hati, berharap Ia akan menyembuhkan orang tersebut pada hari Sabat, agar mereka bisa menyalahkan-Nya.
Kata Yesus kepada orang yang tangannya sebelahnya sakit, "Bangunlah di tengah!" Selanjutnya Yesus bertanya kepada mereka, "Apakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, melakukan kebaikan atau kejahatan?"
Menyelamatkan jiwa seseorang atau membunuh seseorang?" Namun mereka diam saja. Yesus marah karena keteguhan mereka! Dengan murka Ia menatap ke sekeliling,
lalu berkata kepada orang tersebut, "Keluarkanlah tanggamu!" Ia pun mengeluarkan tangannya, dan seketika sembuh.
Kemudian muncul orang-orang Farisi dan segera bersepakat dengan para pengikut Herodes untuk membunuh-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Yang manakah diperkenankan dilakukan pada hari Sabat, menyelamatkan nyawa seseorang atau membunuhnya?
Ketika Iman Menjadi Kaku
Dalam perjalanan hidup beriman, terdapat satu ancaman yang sering kali tidak kita sadari: iman yang secara perlahan menjadi kaku. Kita rutin berdoa, setia menghadiri ibadah, hafal banyak ajaran, namun hati bisa jadi semakin sempit. Kita mudah menilai, cepat menghakimi, dan sulit untuk bersimpati. Bacaan Injil hari ini dalam Markus 3:1–6 menunjukkan perbedaan yang jelas antara hati Yesus yang penuh kasih dan hati para ahli Taurat yang tertutup oleh prinsip-prinsip hukum.
Renungan Katolik harian ini mengajak kita untuk kembali mempertanyakan: apakah iman kita benar-benar menyembuhkan, atau justru menyakitkan? Apakah kehadiran kita memberikan kehidupan, atau justru menimbulkan rasa takut?
Yesus dan Orang yang Tangan Nya Lumpuh
Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus memasuki tempat ibadah. Di dalamnya terdapat seseorang yang tangannya mengalami kelumpuhan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat mengamati Yesus secara cermat. Bukan untuk belajar, bukan untuk percaya. Mereka hanya mengawasi dengan tujuan mencari kesalahan. Mereka ingin melihat apakah Yesus akan menyembuhkan orang tersebut pada hari Sabat, agar mereka bisa menyalahkan-Nya.
Yesus memahami isi hati mereka. Ia memanggil orang yang sedang sakit itu ke tengah-tengah. Kemudian Ia bertanya:
Apakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, melakukan kebaikan atau kejahatan, menyelamatkan seseorang atau membunuhnya?
Pertanyaan ini terlihat sederhana, namun sangat mengguncang. Sabat dibuat sebagai hari istirahat, hari kehidupan, dan hari untuk bertemu dengan Tuhan. Namun dalam tangan manusia, Sabat berubah menjadi alat untuk menghakimi.
Saat mereka diam, Yesus menatap mereka dengan marah dan sedih karena keteguhan hati mereka. Kemudian Ia berkata kepada orang tersebut: "Keluarkanlah tanggamu!" Tangan itu pun pulih.
Ironisnya, setelah melakukan mukjizat tersebut, orang-orang Farisi malah merencanakan untuk membunuh Yesus.
Kesalehan Tanpa Belas Kasih
Di sini kita menyaksikan kisah iman yang tidak didasari kasih. Orang-orang Farisi tidak merasa gembira ketika orang disembuhkan. Mereka tidak terpengaruh oleh penderitaan. Mereka hanya memperhatikan aturan.
Renungan Injil Markus hari ini mengingatkan kita dengan lembut namun tegas: iman yang kehilangan belas kasih bukanlah iman yang benar-benar hidup. Aturan memang penting. Nilai tradisi Gereja sangat berarti. Disiplin spiritual diperlukan. Namun, semuanya menjadi tidak bermakna jika tidak berasal dari kasih.
Di tengah kehidupan modern, kita bisa sangat "religius" di media sosial, rajin membagikan ayat-ayat Alkitab, cepat menyebut ajaran Gereja, namun tetap tidak ramah terhadap sesama. Kita bisa menjadi seperti mereka yang berada di gereja: dekat secara fisik dengan Tuhan, tetapi jauh secara rohani.
Yesus: Sang Tuhan yang Senantiasa Menyembuhkan
Sikap Yesus sangat berbeda. Ia melihat orang tersebut, bukan sebagai isu teologis, tetapi sebagai seseorang yang sedang menderita. Ia menempatkannya di tengah perhatian. Ia mengembalikan harga dirinya. Ia menyembuhkannya, meskipun ia tahu hal itu akan menimbulkan akibat.
Ini adalah wajah Tuhan yang sebenarnya: Tuhan yang berani melebihi batasan untuk menyelamatkan. Tuhan yang lebih mengutamakan manusia daripada aturan. Tuhan yang lebih memilih menyembuhkan daripada menjaga penampilan diri.
Dalam renungan Katolik bagi pemuda, pesan utama ini adalah: mengikuti Yesus bukan berarti menjadi "yang paling benar", melainkan semakin penuh dengan kasih.
Kekuatan Jiwa: Penyakit Jiwa Zaman Sekarang
Injil menyebutkan bahwa Yesus "merasa sedih karena ketegaran hati mereka." Ini bukan sekadar sikap keras kepala. Ketegaran hati merujuk pada keadaan di mana seseorang sudah tidak bisa lagi dipengaruhi oleh hal-hal baik. Mereka tidak tergerak oleh mukjizat. Kesengsaraan tidak mampu menggoyahkannya. Doa pun tidak mampu mengubahnya.
Di era digital, ketangguhan hati bisa muncul dalam bentuk komentar kasar, penilaian cepat, budaya pembatalan (cancel culture), serta kepuasan melihat seseorang jatuh. Kita sering lupa bahwa di balik setiap kesalahan terdapat manusia yang sedang sakit.
Refleksi iman Katolik hari ini mengajak kita untuk merenungkan: apakah hati kita masih peka terhadap sesuatu? Atau justru sudah terlalu sering menjadi keras?
Sabtu dan Makna Istirahat yang Sebenarnya
Yesus tidak menolak hari Sabat. Ia justru mengembalikannya. Sabat bukanlah hari untuk takut melakukan kesalahan, melainkan hari untuk membiarkan Tuhan memperbaiki kehidupan. Sabat bukan terkait larangan, tetapi tentang hubungan.
Di kehidupan kita, "hari Sabat" dapat mengacu pada saat di mana kita berhenti memaksakan, berhenti membandingkan, berhenti menilai — dan mulai mencintai.
Yesus menegaskan bahwa istirahat yang sebenarnya bukan sekadar berhenti dari pekerjaan, melainkan membiarkan kasih Tuhan bekerja di dalam diri kita.
Tangan yang Tidak Bisa Bergerak: Gambaran Jiwa Kita
Seseorang yang tangan mereka tidak berfungsi adalah seperti cermin bagi kita. Terkadang yang mengalami kelemahan bukanlah tubuh, melainkan hati. Kita ingin mencintai, tetapi takut disalahpahami. Kita ingin memaafkan, tetapi malu. Kita ingin berubah, tetapi nyaman dengan kebiasaan lama.
Yesus berkata: “Ulurkanlah tanganmu.”
Perintah ini terlihat sederhana, namun memerlukan kepercayaan. Seseorang mungkin mengatakan, "Aku tidak mampu." Namun ia tetap taat, dan justru dalam ketaatan itulah penyembuhan terjadi.
Renungan Injil hari ini mengajak kita untuk berani mempersembahkan bagian hidup yang terluka kepada Tuhan: luka lama, rasa benci, iri hati, kecanduan, dan ketakutan. Di sanalah kuasa Allah bekerja.
Ketika Kebaikan Mengundang Penolakan
Menarik bahwa setelah kejadian penyembuhan, respons yang muncul bukanlah pertobatan, melainkan rencana pembunuhan. Kebaikan Yesus justru memperjelas permusuhan mereka.
Ini mengingatkan kita bahwa kebenaran hidup tidak selalu membuat kita diterima. Terkadang justru ditolak. Namun Yesus tetap memilih untuk berbuat baik.
Bagi para pemuda dan generasi milenial Katolik, pesan ini realistis: mengikuti Yesus tidak selalu disukai. Terkadang kita akan dipahami salah ketika memilih untuk jujur, memilih untuk memaafkan, atau memilih untuk peduli terhadap mereka yang diabaikan. Namun di sinilah Injil benar-benar hidup.
Menjadi Gereja yang Menyembuhkan
Renungan Katolik 21 Januari 2026 ini juga mengajak umat untuk merenungkan wajah Gereja. Apakah komunitas kita menjadi tempat orang diperbaiki, atau tempat orang takut dihukum? Apakah Gereja kita menjadi rumah sakit bagi yang luka, atau ruang sidang bagi yang terjatuh?
Yesus meletakkan orang yang sakit di tengah. Maksudnya, yang lemah bukanlah hambatan, melainkan pusat perhatian.
Di dalam proyek "The Katolik", pesan ini sangat penting: iman pada masa digital perlu kembali kepada wajah Yesus yang penuh kasih.
Penutup: Hati atau Aturan?
Yesus tidak menghilangkan hukum. Ia menyelesaikannya dengan kasih. Ia menunjukkan bahwa inti dari iman bukan hanya tentang apa yang diperbolehkan atau dilarang, tetapi apakah kehidupan kita memuliakan Tuhan dengan memberi hidup kepada sesama.
Hari ini, Yesus juga melihat kita. Ia mengajukan pertanyaan secara diam-diam:
Apakah yang akan kau pilih, menjaga aturan atau menjaga manusia?
Semoga renungan Injil Markus ini membantu kita semakin mirip dengan hati Kristus: tegas dalam kebenaran, namun lembut dalam kasih.
Doa Penutup
Yesus Tuhan, Engkau memperhatikan yang sedang luka dan menyembuhkan mereka.
Lembutkanlah hati kami yang sering menjadi keras. Bebaskan kami dari iman yang dingin dan penuh hukuman.
Ajarkan kami untuk memilih kebenaran, meskipun hal itu tidak disukai banyak orang.
Perbaikilah hati kami, agar kami dapat mencintai sebagaimana Engkau mencintai.
Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).
Berita Erfa News Lainnya di Google Berita
0 Response to "Injil Katolik: Misa Rabu 21 Januari 2026 Lengkap dengan Mazmur Tanggapan"
Post a Comment