Sejarah dan Perkembangan Stasiun Gawok
Stasiun Gawok, yang terletak di Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, memiliki sejarah panjang yang berawal dari masa kolonial. Pertama kali dibuka pada 16 Maret 1887, stasiun ini merupakan bagian penting dari jalur kereta api di wilayah selatan Solo. Pada era pemerintahan Hindia Belanda, bangunan awalnya berdiri di sisi timur rel dan menjadi salah satu titik penting dalam jaringan transportasi.
Meskipun perannya semakin meredup seiring waktu, Stasiun Gawok sempat direhabilitasi pada 2005–2006. Namun, aktivitasnya tetap minim, hingga akhirnya disebut sebagai stasiun "mati suri". Pada 2007, bangunan lama peninggalan DKA (Dutch East Indies) dibongkar dalam proyek jalur ganda Kutoarjo–Yogyakarta–Purwosari. Saat ini, bangunan utama stasiun berada di sisi barat rel, sementara fondasi bangunan lama masih tersisa sebagai saksi sejarah.

Perubahan Tata Letak dan Modernisasi
Saat ini, Stasiun Gawok memiliki empat jalur kereta api. Awalnya, jalur 1 merupakan sepur lurus. Namun, sejak pengoperasian jalur ganda Delanggu–Solo Balapan pada 8 Januari 2007, tata letak stasiun mengalami perubahan signifikan. Jalur 2 lama diubah menjadi jalur 3 sebagai sepur lurus arah Yogyakarta, sedangkan jalur 1 lama menjadi jalur 4 sebagai sepur lurus arah Solo.
Modernisasi berlanjut dengan pemasangan sistem persinyalan elektrik buatan PT Len Industri (Persero) pada 2013, yang resmi dioperasikan menggantikan sistem mekanik pada Desember 2015. Perubahan ini kembali menggeser penomoran jalur tanpa mengubah jumlah total jalur. Kini, Stasiun Gawok memiliki sepur lurus di jalur 2 dan 3.
Seiring melayani KRL, sejak 2021 stasiun ini dilengkapi peron tinggi berkanopi, yakni di antara jalur 1 dan 2 serta di sisi jalur 4, sehingga lebih ramah bagi penumpang KRL Commuter Line.
Kebangkitan Ekonomi Lokal
Titik balik Stasiun Gawok terjadi pada 10 Februari 2021. Sejak tanggal tersebut, bertepatan dengan berlakunya Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2021, Stasiun Gawok resmi melayani penumpang KRL Commuter Line Yogyakarta. Bersama Stasiun Delanggu, Ceper, dan Srowot, Gawok kembali "hidup" setelah puluhan tahun nyaris tanpa denyut penumpang.
Hingga Gapeka 2025 per 1 Februari 2025, satu-satunya layanan yang berhenti di stasiun ini adalah Commuter Line Yogyakarta dengan relasi Yogyakarta–Palur. Aktivasi ulang stasiun ini terbukti membawa dampak besar bagi kawasan sekitar. Kedekatannya dengan Pasar Gawok membuat arus manusia meningkat signifikan.
Pedagang kecil, warung makan, dan jasa penitipan sepeda motor mulai bermunculan. Tanah di sekitar stasiun pun menjadi incaran untuk hunian, terutama bagi pekerja dan profesional yang beraktivitas di Kota Solo. "Hukum besi" ekonomi pun bekerja: ketika mobilitas manusia meningkat, aktivitas ekonomi ikut tumbuh.
Dampak Ekonomi dan Antusiasme Penumpang
Data PT Kereta Api Indonesia menunjukkan perkembangan penumpang KRL Solo–Jogja sejak diluncurkan pada Februari 2021 sangat signifikan. Pada hari pertama, jumlah penumpang tercatat 3.320 orang. Rata-rata harian meningkat menjadi 4.809 orang pada Februari 2021, lalu melonjak menjadi 6.291 orang pada Maret dan 7.051 orang pada April 2021. Puncaknya terjadi pada 11 April 2021 dengan 12.253 penumpang dalam satu hari.
Meski kemudian menurun saat memasuki bulan puasa, angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat akan transportasi massal berbasis rel yang murah, cepat, dan nyaman. Perjalanan Solo–Yogyakarta dapat ditempuh sekitar satu jam dengan tarif terjangkau. Dengan biaya Rp8.000, penumpang bahkan bisa pulang-pergi selama tidak keluar area stasiun tujuan.
Kedisiplinan penumpang juga terlihat meningkat, mulai dari budaya antre hingga kepatuhan terhadap aturan di stasiun.
Catatan Kelam
Di balik geliat positif tersebut, Stasiun Gawok juga menyimpan catatan kelam. Pada 21 Februari 2010, seorang remaja berusia 19 tahun tewas tertabrak kereta api di dekat stasiun. Insiden serupa kembali terjadi pada 12 Juni 2025, ketika seorang pria berusia sekitar 34 tahun meninggal dunia setelah tersambar KRL di lintas Purwosari–Gawok. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa peningkatan aktivitas kereta harus diiringi kesadaran keselamatan, baik bagi masyarakat maupun pengguna jalur rel.
Ke depan, Stasiun Gawok berpotensi semakin strategis apabila jalur KRL diperpanjang, baik ke arah Purworejo dari Yogyakarta maupun Madiun dari Solo. Kehadiran kereta bandara Yogyakarta International Airport (YIA) dan konektivitas antarmoda lainnya akan memperkuat peran kawasan ini sebagai simpul mobilitas baru.
0 Response to "Asal-usul Stasiun Gawok: Dari Mati Suri ke Bangkit dengan KRL"
Post a Comment